Esai
Atas Nama Fiksi
Orang asing itu, di sebuah kuil yang telah dilahap api purba, yang dewatanya tak lagi menerima pemujaan manusia, membaringkan diri dan tidur. Dia tahu bahwa tugasnya kini adalah bermimpi. Mula-mula, mimpinya hanya berupa gebalau; lalu, selang beberapa waktu, berangsur-angsur menjadi teratur. Orang asing itu bermimpi sedang berada di tengah sebuah teater terbuka berbentuk lingkaran; sekerumun murid duduk di bangku-bangku yang berderet panjang. Ia sangat teliti menimbang murid-muridnya, mencari satu jiwa yang pantas disusupkannya ke alam nyata.
0 komentar:
Posting Komentar